Duel Para Pangeran Beringin : Menakar Marwah di Arena Musda

Oleh: Sirajuddin Gayo (Kader KOSGORO57 Sumut, KPU Sumut 2019, Praktisi Appraisal & Perbankan).
Redaksi - Selasa, 20 Januari 2026 11:29 WIB
Duel Para Pangeran Beringin : Menakar Marwah di Arena Musda
Istimewa
Musda Ke XI Partai Golkar Sumut
bulat.co.id - Sumut| Di bawah langit Sumatera Utara yang membentang luas, sebuah panggung kehormatan sedang disiapkan. Partai Golkar sang pohon beringin yang akarnya telah menghujam dalam ke sanubari rakyat, kini menanti babak baru.

Musyawarah Daerah (Musda) kali ini bukan sekadar pergantian nakhoda, melainkan sebuah simfoni persaingan antara dua putra terbaik : Hendriyanto Sitorus dan Andar Amin Harahap.

Advertisement

Hendriyanto Sitorus hadir sebagai representasi kekuatan lokal yang tak tergoyahkan. Di Labuhanbatu Utara (Labura), namanya adalah sinonim dari keberlanjutan dan pengabdian yang nyata. Sebagai Bupati aktif, ia adalah pemimpin yang "kakinya berlumur tanah" selalu hadir di tengah rakyat, menjahit harapan di sela-sela perkebunan sawit dan denyut nadi pembangunan daerah.

Baca Juga:

Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua DPD Golkar Labura, partai ini tidak sekadar bertahan, melainkan mekar dengan perkasa. Prestasi Golkar di Labura bukan sekadar angka di papan pleno KPU, melainkan bukti keberhasilannya menjaga marwah partai tetap menjadi pilihan utama masyarakat.

Hendriyanto Sitorus menawarkan kestabilan, loyalitas yang teruji, dan bukti otentik bahwa di tangannya, beringin tetap rimbun menaungi bumi Basimpul Kuat Babontuk Elok.

Di sisi lain, Andar Amin Harahap berdiri dengan karisma yang tenang namun menghanyutkan. Rekam jejaknya sebagai Walikota Padangsidimpuan telah meninggalkan jejak tata kelola kota yang modern dan terukur. Kini, langkah kakinya telah mencapai Senayan sebagai anggota DPR RI, membawa aspirasi rakyat ke tingkat tertinggi di republik ini.

Prestasi Andar di Golkar Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) adalah sebuah legenda tentang konsistensi. Ia adalah arsitek politik yang piawai merajut jaringan, menjembatani kepentingan daerah dengan kebijakan nasional. Keberhasilannya melenggang ke DPR RI dengan raihan suara yang signifikan adalah testimoni hidup bahwa pengaruhnya melampaui batas-batas kota yang teramat kecil bila dibandingkan degan dapilnya yang begitu luas dan besar.

Persaingan ini adalah sebuah dialektika yang indah. Hendriyanto Sitorus adalah simbol kekuatan teritorial seorang panglima yang menguasai medan perang dengan detail dan kedekatan emosional di daerah hingga menyentuh pintu - pintu kekuatan pusat. Sementara Andar Amin Harahap adalah simbol diplomasi dan visi makro seorang negarawan muda yang memahami bagaimana menggerakkan roda partai dalam skala yang lebih masif, meskipun baru hadir ketika mendekati detik terakhir dimulainya pertarungan.

Mari kita menyelam lebih dalam ke dalam angka-angka yang menjadi saksi bisu kejayaan mereka, sebuah dialektika statistik yang mempertegas mengapa Musda kali ini terasa begitu sakral.

Dalam politik, angka adalah bahasa kejujuran yang paling dingin. Di balik narasi puitis, terdapat data yang menjadi fondasi bagi Hendriyanto Sitorus dan Andar Amin Harahap untuk melangkah dengan kepala tegak ke arena Musda.

Hendriyanto Sitorus bukan sekadar pewaris, ia adalah pembuktian bahwa tangan dinginnya mampu membuat beringin di Labura tumbuh lebih rimbun dari sebelumnya. Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua DPD Golkar Labura, ia berhasil mencatatkan sejarah yang mencengangkan:

Dominasi Parlemen

Golkar Labura di bawah asuhannya berhasil mengamankan 9 kursi di DPRD Kabupaten (hasil Pileg 2024), sebuah angka yang sangat dominan. Peningkatan ini mempertegas bahwa mesin partai di tingkat akar rumput bekerja dengan presisi, seperti jam dinding yang tak pernah meleset.

Aura Eksekutif

Sebagai Bupati aktif, Hendriyanto Sitorus memiliki panggung nyata untuk menyelaraskan kebijakan pembangunan dengan visi partai. Prestasinya tidak hanya diukur dari deretan piagam seperti Lencana Melati Pramuka, tetapi dari kemampuannya menjaga loyalitas pemilih di tengah gempuran partai-partai baru.

Andar Amin Harahap melangkah ke Musda dengan membawa "Surat Sakti" (istilah dulu yg lebih melekat di Golkar) dari DPD II, Sumatera Utara. Setelah tuntas mengabdi sebagai Walikota Padangsidimpuan, ia membuktikan bahwa magnet politiknya tidak terbatas pada satu wilayah administratif saja.

Mandat Senayan yang Perkasa

Pada Pileg 2024, Andar mencatatkan prestasi fenomenal dengan meraih 140.063 suara pribadi di dapil Sumut II. Angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah pernyataan bahwa ia adalah salah satu "Vote Getter" terkuat Golkar di tingkatannya.

Persaingan mereka di Musda bukanlah sebuah keretakan, melainkan sebuah kemewahan bagi Golkar. Memilih di antara keduanya ibarat memilih antara menjaga kedalaman akar atau membentangkan luasnya dahan. Keduanya telah membuktikan bahwa mereka bukan hanya sekadar pemimpin, melainkan pejuang yang membawa kemenangan nyata bagi panji kuning.

Pertarungan keduanya sesungguhnya bukanlah di hari H saat palu diketuk, melainkan pada detik-detik hari ini, di masa "Pra Musda" yang penuh dengan teka-teki dan manuver di balik tirai.

Ini adalah permainan dua kaki. Satu kaki harus berpijak kuat di bumi, memenangkan hati DPD II Kabupaten/Kota serta ormas pendiri dan yang didirikan (Soksi, Kosgoro, MKGR, dan lainnya). Namun, kaki yang lain harus mampu melompat tinggi, menjangkau restu di Jakarta, sebuah restu yang hingga kini masih mengambang di langit-langit kekuasaan yang sulit ditebak arah anginnya.

Sejarah Musda

Sejarah telah berulang kali menuliskan catatan pahit bagi mereka yang hanya terpaku pada angka-angka dukungan di atas kertas daerah. Kita sering melihat bagaimana gemuruh dukungan dari pemilik suara di tingkat bawah mendadak sunyi ketika sebuah surat keputusan (SK) dari DPP turun dengan nama yang berbeda. Di Golkar, suara daerah adalah amunisi, namun restu pusat adalah kunci gudangnya.

Pertarungan Pra Musda menjadi sangat krusial karena kedua kandidat kini sedang berlomba dalam sebuah "Audisi Senyap". Mereka harus membuktikan dua hal sekaligus kepada DPP bahwa mereka memiliki dukungan akar rumput agar tidak terjadi gejolak di daerah, dan bahwa mereka adalah sosok yang paling selaras dengan kepentingan strategis pusat menuju kontestasi politik masa depan.

Restu Pusat

Restu pusat saat ini ibarat awan yang tertiup angin, ia bisa hinggap di mana saja. Pada akhirnya, Musda Golkar bukan sekadar adu kuat jumlah kursi atau suara pribadi. Ia adalah ujian bagi Hendriyanto Sitorus dan Andar untuk membuktikan siapa yang paling piawai menyeimbangkan antara Marwah Daerah dan Titah Pusat. Karena di bawah naungan beringin, kemenangan sejati hanya bisa diraih ketika akar yang kuat di bawah mendapat siraman cahaya yang cukup dari atas.

Politik akomodatif adalah jalan keluar yang paling sering diambil. Golkar adalah partai yang tidak suka membuang asetnya. Hendriyanto Sitorus dan Andar adalah dua aset emas. Pusat tidak akan membiarkan salah satunya "mati" secara politik di arena Musda nanti, jika para pemilik suara di daerah terjebak dalam fanatisme dukungan, mereka akan diingatkan oleh satu kenyataan pahit bahwa beringin bisa tetap tegak tanpa satu dahan, tapi ia tak bisa hidup tanpa batang utama di pusat.

PLT Sang Juru Damai sekaligus Sang Eksekutor

Kehadiran figur Ahmad Doli Kurnia sebagai PLT bukanlah tanpa tujuan. Ia datang dengan tiga misi utama Pendinginan Suasana (Cooling Down) :

  1. 1. Menghentikan gesekan antara kubu Labura dan Tabagsel agar tidak melukai tubuh partai secara permanen.
  2. Operasi senyap (Lobby-Lobby) di hotel-hotel sekitar arena Musda, plt akan menjadi jembatan. Di sini, tawaran "Win-Win Solution" dilemparkan.
  3. Membawa Pesan "Langit" jika kompromi gagal, plt akan menyampaikan instruksi final dari Jakarta. Dalam sejarah Golkar, "Musyawarah Mufakat" adalah eufemisme dari ketaatan pada keputusan pusat demi menjaga soliditas partai.

Selamat berjuang para pejuang Partai Golkar yang kami cintai.

Editor
: Teguh Adi Putra
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru