Tahun 1947 Labuhanbatu Pernah Cetak Uang Sendiri, Bupati Harus Tahu
"Ketua, ternyata jejak sejarah Labuhanbatu ada di kelurahan ku, aku menemukan uang kuno tahun 1947 yang ditandatangani bupati," ucapnya Selasa (6/1/26) dini hari yang sontak membuat penulis terkejut.
Baca Juga:
Penulis mencoba mengulik sejarah uang kuno tersebut dalam awal kemerdekaan Indonesia. Tidak banyak catatan sejarah untuk dibaca, namun ada beberapa hal yang dapat dikutip dari berbagai sumber tentang keberadaan uang kuno itu.
Sejarah Uang Kuno
Pasca kemerdekaan, pemerintah pusat Republik Indonesia pada 30 Oktober 1946 resmi menerbitkan uang bernama Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai satu-satunya alat tukar yang sah, yang pertama kali dicetak di Malang, Jawa Timur. Selain itu penerbitan ORI juga sebagai bentuk deklarasi kedaulatan perekonomian yang bertujuan meredam peredaran sisa uang Jepang yang masih beredar, dan Belanda yang kembali masuk ke Indonesia.
Namun, pemerintahan yang belum sepenuhnya stabil pada waktu itu menjadikan peredaran ORI tidak dapat mencakup seluruh wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan Belanda menghalangi peredarannya dengan tujuan menggagalkan kedaulatan perekonomian Indonesia yang pada saat itu sedang berjuang mendapatkan pengakuan kemandirian ekonomi di mata internasional sebagai negara merdeka.
Berdasarkan kendala tersebut, sebagai upaya menanggulangi keterbatasan peredaran ORI, pemerintah pusat memberikan kewenangan kepada pemerintah provinsi untuk mencetak mata uang yang bersifat sementara sebagai nilai tukar yang bernama Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA)). Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah No.19/1947 yang dikeluarkan pada 26 Oktober 1947 tentang memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk menerbitkan ORIDA sebagai alat pembayaran sementara.
Provinsi Sumatera pada saat itu merupakan yang pertama menerbitkan ORIDA sebagai alat tukar untuk wilayahnya yang kemudian bernama Oeang Republik Indonesia Provinsi Sumatera (ORIPS), berlandaskan Maklumat Gubernur Sumatera Tengku Mohammad Hasan No.92/K.O tertanggal 8 April 1947, ORIPS dicetak untuk diedarkan pertama kali pada 11 April 1947 di Pematang Siantar.
Tetapi hal serupa juga menjadi kendala dalam peredaran ORIPS. Agresi militer Belanda yang membabi buta menyebabkan percetakan ORIPS beberapa kali dipindahkan, alhasil peredaran ORIPS juga tersendat mencapai wilayah kabupaten. Pada tahun yang sama pemerintah provinsi Sumatera memberikan wewenang kepada beberapa pemerintah kabupaten untuk mencetak mata uang sementara sebagai alat tukar pembayaran yang sah. Mata uang ini ditandatangani dan distempel oleh Bupati.
Labuhanbatu adalah salah satu kabupaten yang mencetak ORIDA -nya sendiri sebagai alat tukar yang sah, dan bukti dukungan penuh terhadap perjuangan kemandirian ekonomi pemerintah Republik Indonesia masa itu. Berdasarkan bukti sejarah yang masih ada ditemukan, pemerintah kabupaten Labuhanbatu mencetak ORIDA pada masa kepemimpinan Gause Gautama tahun 1946-1948 sebagai Bupati.
Masa berlaku ORIDA diatur padaPeraturan Pemerintah No.76/1948 tertanggal 13 Desember 1948. Peredaran ORIDA kemudian dihentikan setelah perundingan Indonesia dan Belanda dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) mencapai kesepakatan pada 27 Desember 1949. Indonesia yang telah mendapatkan kedaulatan kemerdekaan melalui KMB kemudian pada 1 Januari 1950 mencetak dan mengedarkan mata uang federal Republik Indonesia Serikat (RIS) yang dikenal sebagai Uang Federal atau Uang DJB ditandatangani oleh menteri keuangan Sjafruddin Prawiranegara.
Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno dalam pidato kenegaraan terakhirnya pada 17 Agustus 1966 berpesan kepada pemerintah dan masyarakat agar Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Pesan bapak proklamator Indonesia tersebut kemudian dikenal dengan semboyan Jas Merah.
Julpan Nasution pemegang uang kuno ORIDA yang dicetak oleh pemerintah kabupaten Labuhanbatu pasca kemerdekaan Indonesia, kepada penulis menyampaikan bahwa warisan orang tuanya tersebut merupakan artefak sejarah kabupaten yang memiliki motto Ika Bina En Pabolo.
Julpan Nasution yang merupakan warga kelurahan Perdagangan kabupaten Labuhanbatu juga menceritakan asal mula ORIDA berada di tangannya. Saat diwawancaraimelalui sambungan telepon video aplikasi WhatsApp, Julpan mengaku uang kuno itu merupakan milik kakeknya yang disimpan ibunya, dan kemudian diwariskan kepadanya.
"Uang kuno ini warisan kakek saya bernama Kalang Ahmad Harahap kepada ibu saya Ejha Harahap yang lahir di Kota Pinang,"kenang Julpan sembari mengeluarkan uang tersebut dari dalam dompet anyaman pandan yang telah terlihat tua.
Sebelum wafat, ibunya menyerahkan uang kuno ORIDA tersebut kepada Julpan dan berpesan agar bukti sejarah kabupaten Labuhanbatu tersebut dapat dipergunakan sebagaimana mestinya, dan diserahkan kepada pihak yang berhak dengan harapan dapat dijadikan artefak sejarah sebagai bukti perjuangan pasca kemerdekaan Republik Indonesia.
Guna mewujudkan pesan almarhumah ibunya yang telah wafat, kepada penulis Julpan Nasution menitipkan harapan agar Bupati Labuhanbatu dapat memberikan perhatian terhadap artefak sejarah yang merupakan salah satu budaya Labuhanbatu. Kerena menurutnya budaya dan sejarah saling terhubung satu sama lain.
Julfan Nasution turut membeberkan jumlah lembar uang kuno ORIDA yang ditandatangani Bupati Labuhanbatu masa itu :
- Nominal 2.500 rupiah berjumlah 56 lembar ORIDA Labuhanbatu.
- Nominal 1.000 rupiah berjumlah 20 lembar ORIDA Labuhanbatu.
- Nominal 500 rupiah berjumlah 58 lembar ORIDA Labuhanbatu.
- Nominal 50 rupiah berjumlah 1 lembar ORIDA Labuhanbatu.
Selain itu juga terdapat uang kuno ORIDA yang ditandatangani pejabat keuangan Provinsi Sumatera dan Bupati kabupaten Asahan, rincian jumlah lembarnya sebagai berikut :
- Nominal 10 rupiah berjumlah 2 lembar ORIPS.
- Nominal 25 rupiah berjumlah 4 lembar ORIPS.
- Nominal 50 sen berjumlah 1 lembar ORIDA yang ditandatangani Bupati kabupaten Asahan pertama Abdullah Eteng.
- Nominal 25 rupiah berjumlah 4 lembar ORIDA yang ditandatangani Bupati kabupaten Asahan pertama Abdullah Eteng.
Dikutip dari berbagai sumber.
Penulis Teguh Adi Putra Sitorus.
BRI BO Kisaran Dukung Olahraga Menembak Jadi Cabor Unggulan Penyumbang Prestasi di Asahan
Polantas Menyapa jadi Program Berkesinambungan Satlantas Labuhanbatu dalam Memberikan Pelayanan Prima
Pembina Upacara di MAN, Wakapolres Labuhanbatu Kompol Hendri Sampaikan Pesan Kamtibmas
Wujud Kepedulian Polri, Kapolsek Na IX-X Salurkan Bansos kepada Warga yang Membutuhkan
Kanit Reskrim Polsek Kualuh Hilir IPDA Andi Pasaribu Ringkus Pengedar Sabu di Air Hitam