Candaan Netizen MBG "Mas Bahlil Ganteng" Tidak Seharusnya Dibatasi Jika Programnya Berhasil
Rahman - Kamis, 11 Juni 2026 16:50 WIB
Istimewa
Bahlil saat berpidato di acara Musyawarah Nasional (Munas) ke-XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang digelar di Lampung, Rabu (10/6/2026).
bulat.co.id| Langsa - Viralnya lagu My Little Bolu Ketan dengan lirik "MBG Mas Bahlil Ganteng" mungkin membuat sebagian pejabat tersenyum, sebagian lainnya merasa risih. Namun di balik candaan yang membanjiri media sosial, terdapat pertanyaan yang lebih penting yaitu mengapa publik lebih ramai membicarakan pelesetan MBG dibanding membahas capaian Program Makan Bergizi Gratis itu sendiri?
Dalam pidato tersebut ia menegaskan bahwa MBG merupakan program mulia yang harus didukung dan disempurnakan bersama. Pernyataan itu tentu tidak salah. Program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat memang layak mendapat perhatian serius.
Akan tetapi, dalam demokrasi, pemerintah tidak bisa memilih bagaimana masyarakat merespons sebuah kebijakan. Ketika sebuah program menjadi bahan meme, lagu viral, atau candaan, respons yang muncul seharusnya bukan sekadar meminta publik berhenti bercanda. Yang lebih penting adalah memahami mengapa perhatian masyarakat justru tersedot pada simbol dan slogan tertentu, bukan pada keberhasilan programnya.
Fenomena lagu viral tersebut menunjukkan fakta bahwa nama MBG telah dikenal luas. Namun, popularitas tidak selalu identik dengan kepercayaan. Sebuah program bisa menjadi sangat terkenal, tetapi pada saat yang sama masih menyisakan banyak pertanyaan tentang efektivitas, pemerataan, kualitas pelaksanaan, hingga besarnya anggaran yang digunakan.
Bahlil sendiri sebelumnya menunjukkan sikap yang cukup terbuka. Ia mengaku kreativitas masyarakat harus dihargai dan pejabat publik harus siap menerima berbagai respons. Sikap itu patut diapresiasi. Namun penerimaan terhadap kritik dan candaan seharusnya tidak berhenti pada pengakuan bahwa itu adalah risiko jabatan. Pemerintah perlu melihat fenomena tersebut sebagai bentuk pengawasan publik yang lahir dengan cara baru dj dunia digital.
Dalam dunia media sosial, candaan sering kali menjadi bahasa kritik yang paling mudah dipahami masyarakat. Ketika publik netizen membuat lagu, meme, atau parodi tentang suatu program, belum tentu mereka sedang meremehkannya. Bisa jadi mereka sedang mengingatkan bahwa sebuah kebijakan besar harus terus diuji manfaatnya.
Karena itu, persoalan utama MBG bukanlah soal singkatan yang dipelesetkan. Persoalan utamanya adalah bagaimana pemerintah memastikan program tersebut benar-benar menjangkau sasaran, berjalan efektif, dan memberikan dampak yang terukur terhadap perbaikan gizi masyarakat. Sebab tidak ada kampanye komunikasi yang lebih kuat daripada hasil yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Jika MBG berhasil menunjukkan manfaat nyata, maka publik pada akhirnya akan berbicara tentang keberhasilannya, bukan tentang lagu viral yang mengiringinya. Sebaliknya, jika berbagai persoalan implementasi masih terus muncul, maka candaan akan tetap hidup karena masyarakat merasa memiliki alasan untuk mempertanyakannya.
Publik tidak butuh klarifikasi mengenai arti MBG. Publik sudah tahu kepanjangannya. Yang belum sepenuhnya mereka lihat adalah sejauh mana program tersebut mampu memenuhi janji besar yang dibawanya. Dan selama pertanyaan itu belum terjawab, ruang kritik dalam bentuk diskusi serius maupun munculnya lagu viral akan terus terbuka.
Penulis: Fatih Rahman
Baca Juga:Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta agar singkatan MBG tidak lagi dipelintir menjadi "Mas Bahlil Ganteng". Hal itu disampaikan Bahlil di acara Musyawarah Nasional (Munas) ke-XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang digelar di Lampung, Rabu (10/6/2026).
Dalam pidato tersebut ia menegaskan bahwa MBG merupakan program mulia yang harus didukung dan disempurnakan bersama. Pernyataan itu tentu tidak salah. Program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat memang layak mendapat perhatian serius.
Akan tetapi, dalam demokrasi, pemerintah tidak bisa memilih bagaimana masyarakat merespons sebuah kebijakan. Ketika sebuah program menjadi bahan meme, lagu viral, atau candaan, respons yang muncul seharusnya bukan sekadar meminta publik berhenti bercanda. Yang lebih penting adalah memahami mengapa perhatian masyarakat justru tersedot pada simbol dan slogan tertentu, bukan pada keberhasilan programnya.
Fenomena lagu viral tersebut menunjukkan fakta bahwa nama MBG telah dikenal luas. Namun, popularitas tidak selalu identik dengan kepercayaan. Sebuah program bisa menjadi sangat terkenal, tetapi pada saat yang sama masih menyisakan banyak pertanyaan tentang efektivitas, pemerataan, kualitas pelaksanaan, hingga besarnya anggaran yang digunakan.
Bahlil sendiri sebelumnya menunjukkan sikap yang cukup terbuka. Ia mengaku kreativitas masyarakat harus dihargai dan pejabat publik harus siap menerima berbagai respons. Sikap itu patut diapresiasi. Namun penerimaan terhadap kritik dan candaan seharusnya tidak berhenti pada pengakuan bahwa itu adalah risiko jabatan. Pemerintah perlu melihat fenomena tersebut sebagai bentuk pengawasan publik yang lahir dengan cara baru dj dunia digital.
Dalam dunia media sosial, candaan sering kali menjadi bahasa kritik yang paling mudah dipahami masyarakat. Ketika publik netizen membuat lagu, meme, atau parodi tentang suatu program, belum tentu mereka sedang meremehkannya. Bisa jadi mereka sedang mengingatkan bahwa sebuah kebijakan besar harus terus diuji manfaatnya.
Karena itu, persoalan utama MBG bukanlah soal singkatan yang dipelesetkan. Persoalan utamanya adalah bagaimana pemerintah memastikan program tersebut benar-benar menjangkau sasaran, berjalan efektif, dan memberikan dampak yang terukur terhadap perbaikan gizi masyarakat. Sebab tidak ada kampanye komunikasi yang lebih kuat daripada hasil yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Jika MBG berhasil menunjukkan manfaat nyata, maka publik pada akhirnya akan berbicara tentang keberhasilannya, bukan tentang lagu viral yang mengiringinya. Sebaliknya, jika berbagai persoalan implementasi masih terus muncul, maka candaan akan tetap hidup karena masyarakat merasa memiliki alasan untuk mempertanyakannya.
Publik tidak butuh klarifikasi mengenai arti MBG. Publik sudah tahu kepanjangannya. Yang belum sepenuhnya mereka lihat adalah sejauh mana program tersebut mampu memenuhi janji besar yang dibawanya. Dan selama pertanyaan itu belum terjawab, ruang kritik dalam bentuk diskusi serius maupun munculnya lagu viral akan terus terbuka.
Penulis: Fatih Rahman
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Nanik S Deyang Ditunjuk Pimpin Badan Gizi Nasional, Ini Rekam Jejaknya
Kepala BGN Baru Ubah Arah Program MBG, Prioritaskan Daerah 3T dan Perbaikan Kualitas
Membaca Fenomena My Little Bolu Ketan: Cermin Budaya Viral Indonesia Hari Ini
"My Little Bolu Ketan", Lagu Viral yang Bikin Bahlil Penasaran
SPPG Desa Bogak Besar Resmi Beroperasi, Perdana Salurkan Program MBG
Dukung Program MBG, Sebanyak 66 Dapur SPPG di Sergai Resmi Beroperasi
Komentar