Meski Melemah terhadap Dolar AS, Rupiah Terbukti Tetap Mengalami Penguatan

Rahman - Selasa, 30 Juni 2026 13:50 WIB
Meski Melemah terhadap Dolar AS, Rupiah Terbukti Tetap Mengalami Penguatan
Ilustrasi
bulat.co.id - JAKARTA | Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (29/6/2026), meski pemerintah mengakui mata uang Garuda masih menghadapi tekanan yang lebih besar dibandingkan sejumlah mata uang negara lain.

Advertisement

Baca Juga:
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.10 WIB, rupiah menguat 0,20 persen ke level Rp17.870 per dolar AS. Penguatan tersebut membuat rupiah menjauh dari level psikologis Rp17.900 per dolar AS dan menjadi salah satu dari hanya dua mata uang Asia yang berhasil menguat terhadap greenback pada hari itu, bersama ringgit Malaysia.


Di saat yang sama, delapan mata uang Asia lainnya justru mengalami pelemahan, di antaranya won Korea Selatan, baht Thailand, dong Vietnam, dolar Singapura, yuan China, dolar Taiwan, peso Filipina, hingga yen Jepang.


Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai tekanan terhadap rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dalam rapat koordinasi bersama DPR yang membahas kondisi perekonomian nasional, pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik.


"Mungkin juga yang disepakati, keadaan ekonomi Indonesia sebetulnya secara fundamental cukup baik. Namun, kita memang menghadapi pelemahan rupiah yang lebih daripada peers kita," ujar Mari dalam konferensi pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2026).


Pemerintah menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak hanya dihadapi Indonesia, tetapi juga dialami berbagai negara akibat meningkatnya ketidakpastian global. Oleh sebab itu, menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional menjadi prioritas utama melalui kebijakan yang tepat.


Selain itu, pemerintah bersama DPR sepakat memfokuskan upaya pada penguatan stabilitas makroekonomi melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga ketahanan ekonomi nasional dari dampak gejolak global, termasuk kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan inflasi dan menekan daya beli masyarakat.


Di pasar global sendiri, dikutip dari CNBC Indonesia, dolar AS masih bertahan di level tinggi meski indeks dolar (DXY) terkoreksi tipis. Penguatan dolar didorong ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.


Pelaku pasar juga masih menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa waktu ke depan. Analis memperkirakan dolar AS masih berpeluang menguat apabila ekonomi dan pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam tetap solid.

Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru