Kemlu RI Pastikan Belum Ada WNI Jadi Korban Gelombang Panas Ekstrem di Eropa

Redaksi - Rabu, 01 Juli 2026 16:01 WIB
Kemlu RI Pastikan Belum Ada WNI Jadi Korban Gelombang Panas Ekstrem di Eropa
Turis menyejukkan diri saat gelombang panas melanda Dubrovnik, Kroasia, pada 9 Juli 2024. ANTARA/Xinhua/ Grgo Jelavic
bulat.co.id - JAKARTA | Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan belum ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban gelombang panas ekstrem (heatwave) yang tengah melanda sejumlah negara di Eropa.

Advertisement

Baca Juga:
Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan seluruh perwakilan Indonesia di kawasan Eropa untuk memantau kondisi WNI di tengah cuaca ekstrem tersebut.


"Terkait dengan heatwave di Eropa, kita sudah berkomunikasi dengan perwakilan-perwakilan kita di sana dan sampai saat ini belum ada WNI yang terdampak, yang menjadi korban. Namun demikian, semua perwakilan di Eropa membuka hotline dan juga menyampaikan kepada para WNI untuk waspada dan melakukan langkah-langkah agar tidak terlalu terdampak dengan kondisi panas ekstrem," kata Heni kepada awak media di Jakarta, Rabu (1/7/2026) melansir Liputan6.


Menurut Heni, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal RI di berbagai negara Eropa telah meningkatkan layanan perlindungan bagi WNI, termasuk membuka saluran darurat (hotline) dan mengimbau masyarakat Indonesia agar membatasi aktivitas di luar ruangan saat suhu berada pada tingkat berbahaya.


Sementara itu, gelombang panas yang melanda Eropa pada awal musim panas tahun ini telah memicu suhu udara hingga mencapai rekor tertinggi di sejumlah negara. Kondisi tersebut menyebabkan meningkatnya jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan, mengganggu layanan transportasi dan infrastruktur, serta meningkatkan angka kematian.


Pada 28 Juni lalu, suhu udara di sejumlah wilayah Jerman, Republik Ceko, dan Polandia dilaporkan menyentuh 40 derajat Celsius. Gelombang panas kemudian bergerak ke wilayah timur Eropa hingga memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah di Slovakia dan Hungaria.


Berdasarkan laporan badan meteorologi nasional masing-masing negara, Slovakia mencatat suhu 41,3 derajat Celsius di wilayah Kamenica nad Hronom, sedangkan Hungaria mencatat suhu mencapai 42 derajat Celsius di Szecseny. Kondisi tersebut bahkan memicu krisis air bersih akibat terganggunya jaringan pipa karena kekeringan dan tingginya konsumsi air.


Di Prancis, sekitar 1.000 kematian di atas angka normal dilaporkan selama periode gelombang panas. Setelah beberapa hari dilanda suhu rata-rata hampir 30 derajat Celsius, dengan puncaknya mencapai 44 derajat Celsius di salah satu kota, sejumlah wilayah di negara itu kemudian diterjang badai.


Secara keseluruhan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 1.300 kematian di atas angka normal di kawasan Eropa sejak 21 Juni.


Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, dengan laju kenaikan suhu dua kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Ia juga mengingatkan bahwa sebagian besar infrastruktur di Eropa belum dirancang untuk menghadapi suhu yang sangat tinggi.


Menurut Tedros, dampak perubahan iklim dan pemanasan global membuat gelombang panas yang dahulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini berpotensi terjadi hampir setiap tahun.

Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru