Membaca Fenomena My Little Bolu Ketan: Cermin Budaya Viral Indonesia Hari Ini
Rahman - Minggu, 31 Mei 2026 12:00 WIB
ANTARA/Putu Indah Savitri
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi keterangan di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (6/4/2026).
bulat.co.id - Fenomena lagu viral "My Little Bolu Ketan" tidak lagi sekadar hiburan di media sosial. Lagu yang memuat nama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia itu kini menjadi contoh bagaimana budaya digital, kecerdasan buatan (AI), dan politik berbaur menjadi satu dalam percakapan publik Indonesia.
Di tengah popularitas lagu tersebut, Bahlil justru menunjukkan respons yang santai. Dalam perbincangan bersama Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, ia mengaku penasaran dengan sosok pencipta lagu tersebut.
"Kalau yang bersangkutan berkenan, saya akan mengundang untuk berbincang-bincang sekaligus makan. Karena penasaran juga saya. Saya lagi ibadah tapi setiap pagi (dengar lagu ini). Anak saya aja ketawain saya," kata Bahlil.
Bahlil sendiri mengingatkan bahwa kreativitas digital harus tetap memiliki batas dan tanggung jawab, serta harus tetap berada dalam koridor yang positif.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan wajah komunikasi politik di era digital. Jika dahulu popularitas pejabat publik banyak dibangun melalui pemberitaan media arus utama atau kampanye formal, kini citra seorang pejabat dapat terbentuk melalui meme, konten AI, hingga lagu yang dibuat dari komentar netizen.
Secara sosial, tren ini membawa dampak positif berupa meningkatnya partisipasi publik dalam ruang digital. Kreativitas anak muda mendapatkan panggung baru tanpa harus memiliki akses ke industri musik konvensional. Lagu yang dibuat hanya dari kumpulan komentar internet mampu menjangkau puluhan juta orang dan menjadi perbincangan nasional.
Fenomena tersebut juga menunjukkan bahwa teknologi AI semakin mudah diakses dan dimanfaatkan masyarakat untuk menciptakan karya kreatif dalam waktu singkat.
Namun di sisi lain, tren semacam ini juga memiliki risiko. Popularitas seorang pejabat dapat bergeser dari pembahasan substansi kebijakan menjadi sekadar figur yang viral. Ruang diskusi publik berpotensi lebih banyak diisi hiburan dibandingkan evaluasi terhadap kinerja pemerintah.
Dari sisi politik, fenomena "My Little Bolu Ketan" memperlihatkan bagaimana viralitas kini dapat menjadi instrumen pembentukan persepsi publik yang sangat kuat. Popularitas digital mampu memperluas jangkauan figur publik tanpa biaya kampanye konvensional, tetapi sekaligus menciptakan tantangan baru berupa penyederhanaan isu-isu politik menjadi sekadar tren hiburan.
Dalam ilmu politik dan komunikasi politik terdapat konsep personalization of politics, yaitu kecenderungan perhatian publik lebih tertuju pada individu politisi daripada program atau kebijakan yang mereka jalankan. Ini juga dibahas oleh Gideon Rahat dan Gadi Sheafer dalan buku "From Party Politics to Personalized Politics? Party Change and Political Personalization in Democracies (2018)".
Banyak persoalan besar yang masih penting untuk dibahas dalam skala yang sama seperti peristiwa blackout di Sumatera, Lambatnya Penyerapan Minyak Rakyat oleh PT Pertamina, dan pengawasan sektor pertambangan yang sampai saat ini masih rawan korupsi.
Fenomena "My Little Bolu Ketan" mungkin akan berlalu sebagaimana tren-tren viral lainnya. Namun, pelajaran yang ditinggalkannya tetap relevan, di era algoritma, perhatian publik adalah komoditas yang sangat berharga.
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling viral, melainkan apakah ruang publik juga mampu memberikan perhatian yang sama terhadap persoalan-persoalan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Baca Juga:Lagu dengan lirik unik seperti "MBG Mas Bahlil Ganteng" dan "buah apa yang paling manis? Buah lil" telah menjangkau puluhan juta penonton di berbagai platform media sosial. Bahkan, Presiden ke-7 RI Joko Widodo ikut meramaikan tren tersebut melalui unggahan video sekelompok anak muda yang berjoget mengikuti lagu itu di depan kediamannya di Solo.
Di tengah popularitas lagu tersebut, Bahlil justru menunjukkan respons yang santai. Dalam perbincangan bersama Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, ia mengaku penasaran dengan sosok pencipta lagu tersebut.
"Kalau yang bersangkutan berkenan, saya akan mengundang untuk berbincang-bincang sekaligus makan. Karena penasaran juga saya. Saya lagi ibadah tapi setiap pagi (dengar lagu ini). Anak saya aja ketawain saya," kata Bahlil.
Bahlil sendiri mengingatkan bahwa kreativitas digital harus tetap memiliki batas dan tanggung jawab, serta harus tetap berada dalam koridor yang positif.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan wajah komunikasi politik di era digital. Jika dahulu popularitas pejabat publik banyak dibangun melalui pemberitaan media arus utama atau kampanye formal, kini citra seorang pejabat dapat terbentuk melalui meme, konten AI, hingga lagu yang dibuat dari komentar netizen.
Secara sosial, tren ini membawa dampak positif berupa meningkatnya partisipasi publik dalam ruang digital. Kreativitas anak muda mendapatkan panggung baru tanpa harus memiliki akses ke industri musik konvensional. Lagu yang dibuat hanya dari kumpulan komentar internet mampu menjangkau puluhan juta orang dan menjadi perbincangan nasional.
Fenomena tersebut juga menunjukkan bahwa teknologi AI semakin mudah diakses dan dimanfaatkan masyarakat untuk menciptakan karya kreatif dalam waktu singkat.
Namun di sisi lain, tren semacam ini juga memiliki risiko. Popularitas seorang pejabat dapat bergeser dari pembahasan substansi kebijakan menjadi sekadar figur yang viral. Ruang diskusi publik berpotensi lebih banyak diisi hiburan dibandingkan evaluasi terhadap kinerja pemerintah.
Dari sisi politik, fenomena "My Little Bolu Ketan" memperlihatkan bagaimana viralitas kini dapat menjadi instrumen pembentukan persepsi publik yang sangat kuat. Popularitas digital mampu memperluas jangkauan figur publik tanpa biaya kampanye konvensional, tetapi sekaligus menciptakan tantangan baru berupa penyederhanaan isu-isu politik menjadi sekadar tren hiburan.
Dalam ilmu politik dan komunikasi politik terdapat konsep personalization of politics, yaitu kecenderungan perhatian publik lebih tertuju pada individu politisi daripada program atau kebijakan yang mereka jalankan. Ini juga dibahas oleh Gideon Rahat dan Gadi Sheafer dalan buku "From Party Politics to Personalized Politics? Party Change and Political Personalization in Democracies (2018)".
Banyak persoalan besar yang masih penting untuk dibahas dalam skala yang sama seperti peristiwa blackout di Sumatera, Lambatnya Penyerapan Minyak Rakyat oleh PT Pertamina, dan pengawasan sektor pertambangan yang sampai saat ini masih rawan korupsi.
Fenomena "My Little Bolu Ketan" mungkin akan berlalu sebagaimana tren-tren viral lainnya. Namun, pelajaran yang ditinggalkannya tetap relevan, di era algoritma, perhatian publik adalah komoditas yang sangat berharga.
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling viral, melainkan apakah ruang publik juga mampu memberikan perhatian yang sama terhadap persoalan-persoalan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
"My Little Bolu Ketan", Lagu Viral yang Bikin Bahlil Penasaran
Tangan Jonan "Bunuh" Orang Poco Leok, Desakan Cabut SK Menteri ESDM Diungkap Pelajar SMAK Loyola Labuan Bajo Lewat Sebuah Fragmen
Nenek Suryani Warga Sergai Sudah Dapatkan Bantuan dari Pemerintah
Diduga Selingkuh dengan Calon Suami, Oknum Polwan Dilabrak Wanita
Viral Arga Jakob, Oknum ASN di RSUD Pulau Pisau Kalteng Hina Nabi, Netizen Minta Pecat
Heboh Jamaah Pengajian Bagi Amplop dan Dukung Bobby Nasution di Pilgub Sumut
Komentar